Catatan Pribadi

Saya Mencintai Dia dan Dia Mencintai’nya’

Bukan kali pertama saya melihat orang yang saya cintai jatuh cinta pada orang lain. Sakit? Tidak, tapi justru bahagia. Bagi saya itu adalah kebahagiaan tersendiri, melihat orang yang kita sayang bisa turut bahagia dengan jalannya.

Saya memahami, terkadang kebahagiaan tidak harus menghadirkan apa yang kita mau. Bisa jadi apa yang kita inginkan justru membawa petaka dan derita. Bersyukur dan senantiasa berpikir positif menjadi kunci melihat dia jatuh cinta pada orang lain.

Saya pribadi sangat sepakat dengan nasehat Mbah Sujiwo Tejo bahwa menikah itu nasib dan mencintai itu takdir. Kita bisa berencana mau menikah dengan siapa, tapi kita tak bisa merencanakan cinta kita untuk siapa.

Biarlah rasa cinta berjalan sesuai takdirnya. Anggap saja ini adalah hadiah dari Tuhan atas kekosongan hati yang berlarut-larut. Dan rasa-rasanya memang benar, Tuhan telah menakdirkan masa muda saya sebagai si Tuna Asmara.

Hah, Tuna Asmara?

Tuna Asmara bukan berarti tidak bisa jatuh cinta. Tuna Asmara menjadi simbol bagi mereka yang memilih untuk sendiri tanpa harus terjerumus pada sakit hati karena cinta. Rasa cinta yang dimiliki lebih memilih untuk dipendam daripada disampaikan.

Kenyamanan hati dan ketenangan jiwa adalah segalanya. Rasa cinta pada lawan jenis hanya dilihat sebagai stimulus menuju kebahagiaan. Biar saja cinta tetap menjadi rasa tanpa perlu merusak relasi antara saya dan dia.

Cinta tak harus disampaikan, namun cinta harus dibuktikan. Dia tidak perlu tahu betapa besar cinta saya padanya, yang terpenting adalah bagaimana saya membuktikannya. Karena, terlalu omong kosong jika setiap hari membual ‘i love u’ tapi tidak ada bukti.

Lantas, bukti seperti apa?

Ini yang menjadi pembeda antara aku dan kalian, antara kalian dan mereka. Saya sangat yakin, rasa cinta yang kita miliki pasti sama. Yang membedakan hanyalah sikap kita atas rasa cinta itu.

Ada yang membuktikan rasa cintanya dengan kerja, kerja, dan kerja. Baginya, nafkah yang ia kumpulkan kelak menjadi bekal untuk menghalalkannya. Ada pula yang membuktikan rasa cintanya dengan belajar, belajar dan belajar. Sebab, ia tahu kalau calon mertuanya sangat ingin punya menantu S2.

Sekali lagi, rasa cinta itu sama, yang beda hanyalah cara membuktikannya. Karenanya, sejak saya jatuh cinta pada dia, tak sedikit pun ada rasa ingin mengatakanya. Biarlah waktu yang mengetuk hatinya.

Saya teringat dengan filsafat etika Immanuel Kant, bahwa baik tidak harus beralasan. Berbuat baik ya berbuat baik saja, tidak perlu ada rasa pamrih atas apa yang kita lakukan. Cinta ya cinta saja, tidak perlu ada rasa pamrih atas cinta ini padanya.

So, jika hari ini saya mencintai dia dan dia mencintanya, biarlah saya yang mengalah. Sejatinya lelaki hanya berhak mencintai dan perempuan lebih berhak memilih cintanya.

Rasa cinta terlalu agung jika untuk dipermainkan dan ditransaksikan atas nama pacaran. Pacaran bukan satu-satunya ekspresi rasa cinta antara saya dan dia. Tuhan menciptakan jalan yang tak terhingga dan jauh lebih baik untuk mengungkapkan betapa besar cinta ini padanya.

Keep Smile 🙂

Tags
Show More

Mas Halfi

100% Kediri. Ingin meminang Gadis Kediri. Kini sedang meniti karir di Ibukota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close