Artikel

Merefleksikan Kembali Kebebasan Sartre

Mas Halfi – Manusia merupakan makhluk yang kompleks, manusia merasakan penderitaan dan kegelisahan, manusia mudah bosan, manusia mencintai dan membenci, manusia menangis dan tertawa, manusia bahagia dan sedih, manusia mengagumi, manusia merupakan objek sekaligus subjek, manusia bergerak menuju sesuatu, manusia ada dan mengada.

Begitulah cara filsafat eksistensialisme memahami manusia; dengan menyelami kehidupan manusia sehari-hari terlepas dari konsep bagaimana bermulanya dan berakhirnya kehidupan manusia. Yang terpenting ialah manusia yang sedang terlempar ke dalam kenyataan seperti yang dikatakan Heidegger. Manusia yang kesepian yang sedang menjelajah dunia tanpa Tuhan dan tanpa teman, hanya dirinya sendiri, karena Tuhan sudah mati, seperti yang dikatakan Nietzsche.

Jean-Paul Sartre (1905-1980) merupakan salah satu filsuf eksistensialis yang memiliki pengaruh besar dalam berbagai bidang. Salah satu tema penting dalam pemikiran Sartre adalah mengenai kebebasan: Manusia tervonis bebas, dengan kebebasannya manusia mengada.

Manusialah yang menentukan nasibnya, dirinya sendirilah yang menentukan siapa dirinya. Tidak ada Tuhan, karena jika Tuhan ada maka aku tidak bebas. Bahkan manusia lain adalah neraka bagi-ku, kehadiran manusia lain membatasi kebebasan-ku. Tapi aku berhak untuk bebas, aku bisa saja melakukan sesuatu tanpa peduli pada mereka, karena aku sendirilah yang menentukan perasaan-ku dan bukan orang lain.

Manusia bebas dan bertanggung jawab merupakan pendekatan yang tepat, atau alat bagi tindakan moral (Lavine 2003,97). Dalam kuliah-kuliah yang Sartre berikan ia menjelaskan bahwa idealisme moral tidak ada dan bahwa tidak ada nilai-nilai moral yang dapat memandu hidup seseorang.

Jika kita melihat sekelumit pemikiran Sartre ini mungkin kita akan mengerutkan dahi dan boleh jadi kita justru merasa ada yang tak beres dengan pemikiran Sartre ini. Tidak adanya Tuhan, manusia lain sebagai neraka, bahkan tak ada nilai-nilai moral yang dapat memandu hidup kita. Apakah Sartre ini orang gila?

Bagi Sartre kebebasan itu mutlak; tanpa kebebasan eksistensi menjadi sesuatu yang absurd (Hassan 1976: 106). Manusia bebas menentukan siapa dirinya, manusia terus-menerus menciptakan dirinya, manusia adalah perkembangan diri yang terus menerus, dan masa kininya sekaligus merupakan masa depannya. Eksistensi mendahului esensi, manusia menentukan dunianya, menciptakan dunianya, dan hidup dalam dunianya. Dengan demikian manusia bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan.

Sartre tidak mengajak kita untuk menjadi manusia yang “seenaknya saja ”, tapi pertama-tama kita harus melihat bahwa Sartre mengajak kita untuk menjadi manusia yang otonom dan mandiri. Manusia yang tidak bergantung pada manusia lain, manusia yang tidak bergantung pada Tuhan, manusia yang tidak menggantungkan kebahagiaannya pada orang lain, manusia yang tidak terpengaruh oleh konstruksi sosial, dan manusia yang menjadi dirinya sendiri.

Sartre menekankan tanggung jawab kita atas hidup kita, bebas bukan berarti tidak tahu diri, justru bebas merupakan ciri bahwa seseorang mengenal dirinya dengan baik. Dengan kebebasannya manusia dituntut untuk memahami konsekuensi dari tindakannya. Kita bebas saja untuk bermalas-malasan, tapi jika kita tahu konsekuensi dari bermalas-malasan itu akan berdampak buruk bagi diri kita, apakah kita akan terus-menerus bermalas-malasan?

Kembali lagi pada kebebasan, jika kita tahu sesuatu berakhir buruk kita bebas untuk tetap melakukannya, tidak melakukannya, atau mengakhirinya. Sebagai seorang pengagum Sartre saya akan memberikan kebebasan pada Anda, dan tidak akan memaksa Anda, karena Anda bebas atas diri Anda sendiri.

Bagaimana menjelaskan manusia lain sebagai neraka? Jadi, manusia merupakan homo socius, manusia hidup bersama manusia lain dan alam semesta, manusia berkoeksistensi. Manusia lain menjadi neraka ketika mereka membuat kita sedih, membuat kita marah, dan membuat kita malu.

Secara sederhana Sartre ingin menyampaikan kepada kita untuk tidak menggantungkan kebahagiaan kita pada orang lain, percaya diri, tidak mengandalkan orang lain, dan berhak menentukan diri kita tanpa paksaan dari orang lain.

Sartre tidak mengajak kita untuk tidak mendengarkan komentar, kritik, dan saran dari orang lain, tapi Sartre menawarkan kepada kita kebebasan untuk mau menerima perkataan orang lain atau tidak, di sini kita bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita, kalau komentar itu baik mengapa kita harus mengabaikannya? Kita bebas untuk menerima komentar itu, atau menolaknya, intinya kita bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita.

Bagaimana dengan tidak adanya nilai moral yang dapat memandu hidup kita? Ini merupakan konsekuensi dari ketiadaan Tuhan, bahwa tidak ada hukum moral yang absolut. Secara sederhana pemikiran Sartre ini dapat disimpulkan bahwa jangan melakukan sesuatu dengan terpaksa, lakukanlah sesuatu dengan kebebasan. Bagi saya ini tak ada salahnya, karena jauh sebelum Sartre kita mengenal seorang filsuf moral bernama Immanuel Kant yang memiliki prinsip kebebasan mendahului tanggung jawab.

Artinya apa? kita bukan melakukan sesuatu itu sekedar karena ‘tahu’ bahwa sesuatu itu ‘harus’ dilakukan, tapi kita melakukan sesuatu karena ‘tahu’ bahwa sesuatu itu memang ‘baik’ dan ‘harus’ dilakukan. Faktanya banyak manusia yang melakukan sesuatu tanpa mengetahui mengapa itu harus dilakukan. Manusia itu bebas secara tahu dan mau untuk melakukan sesuatu dengan penuh tanggung jawab.

Pemikiran Sartre ini sekaligus mengkritik orang-orang beragama yang melakukan sesuatu yang pertama-tama motivasinya sekedar ingin mendapatkan pahala dari Tuhan, atau terbebas dari hukum, baik hukuman dari Tuhan atau dari manusia, dan secara ironis mengkritik orang-orang yang takut pada neraka. Orang-orang ini melakukan sesuatu karena takut, kebebasan Sartre mengandaikan kebebasan dari rasa takut atau melampaui rasa takut.

Rasa takut hanya membuat manusia menderita dan hidup dalam tekanan. Namun, itu terserah Anda untuk terus hidup dalam rasa takut atau hidup dengan penuh kemerdekaan, sebagai seorang pengagum Sartre saya akan memberikan kebebasan Anda untuk memilih terus hidup dalam rasa takut atau menjadi manusia yang bebas dari rasa takut.

Beragama atau tidak, percaya Tuhan atau tidak, merupakan pilihan. Manusia berhak untuk memilih salah satunya atau tidak memilih karena tidak memilih adalah pilihan tersendiri. Kiranya pemikiran Sartre ini tidak dilihat sebagai ajakan untuk tidak percaya Tuhan karena itu kebebasan kita untuk menentukan.

Sebagai orang yang percaya pada Tuhan, pemikiran Sartre ini dapat diterjemahkan untuk menjadi manusia religius yang otentik dan mandiri, percaya Tuhan bukan sekedar percaya, melainkan percaya Tuhan dengan bebas dan bertanggung jawab, tanpa desakan atau paksaan, seutuhnya pilihan kita sendiri yang menjadikan diri-ku sebagai aku.

Begitu pula jika kita tidak percaya pada Tuhan. Kita juga tidak dapat memaksakan orang lain untuk percaya atau tidak, mengikuti pemikiran kita atau tidak, karena setiap orang bebas sepenuhnya atas dirinya dan memiliki tanggung jawab penuh atas dirinya. Manusia tervonis bebas, demikianlah yang Sartre katakan, manusia dengan kebebasannya menentukan nasibnya sendiri.

Mungkin terdengar ironis, tapi bagi yang percaya pada Tuhan saya akan mengatakan, “Tuhan telah memberikan kita kanfas dan kuas, indah atau tidaknya lukisan kita, tangan kita sendirilah yang menentukan.

Jadi jangan menyalahkan Tuhan ketika kehidupan kita tidak seindah yang kita inginkan, karena bahagiamu ada di tanganmu, bukan orang lain, bukan Tuhan, kuas ada di tanganmu dan kanfas ada di hadapanmu, ini dirimu dan kehidupan ada di depan matamu.”

Sumber:

  • Hassan, Fuad. 1976. “Berkenalan dengan Eksistensialisme”. Dunia Pustaka Jaya: Jakarta.
  • Lavine, T. Z. 2003. “Sartre: Filsafat Eksistensialisme Humanis”. Terj. Andi Iswanto dan Deddy Andrian Utama. Jendela: Yogyakarta.

 

Tags
Show More

Mas Halfi

100% Kediri. Ingin meminang Gadis Kediri. Kini sedang meniti karir di Ibukota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close