Cinta dan Inilah Cintaku
What's Up

Surat Cinta di Hari Valentine

Dear Kamu yang Disana

Kalau aku boleh memanjatkan doa di hari Valentine ini, aku berharap hari ini menjadi hari keberkahan untukku dan dirimu. Hari dimana jalinan suci itu bersambung dan semakin harmonis. Hari dimana semua cita-cita didekatkan dan dimudahkan, dan hari dimana aku dan kamu berjalan bersama di atas ril komitmen.

Beribu-ribu kata ‘semoga’ terpanjatkan hari ini kepada orang yang disayang. Meski gaduh tak bisa dielakkan, tapi rasa sayang dan cinta tak bisa dibendung olehnya. Ya, ini adalah hari Valentine, hari dimana rasa kasih sayang berhak disampaikan, hari dimana rasa cinta berhak dicurahkan.

Pun dengan diriku. Meski sampai hari ini masih melekat dengan sebutan Tuna Asmara, tapi aku tetap bercita-cita menjalin cinta kasih. Aku tetap manusia biasa yang butuh kasih-mengasihi, cinta-mencintai pada sosok yang istimewa.

Kepada siapa? Biarlah Tuhan yang menjawabnya. Aku hanya bisa berdoa dan berusaha untuk memantaskan diri sembari berusaha. Melangkahkan kaki menjadi pria dan menyiapkan mental menjadi kepala rumah tangga.

Doa-doaku senantiasa terucap dipenutup ibadah. Aku tak meminta banyak pada-Nya. Aku hanya memanjatkan, “Dekatkanlah seseorang yang baik. Jika memang ia jodohku nanti, biarlah aku berbuat baik untuknya. Jauhkan kami dari bahaya fitnah dan keterbelakangan. Mudahkanlah langkah kami untuk maju bersama. Dan jika tiba saatnya, mudahkanlah lisan ini untuk mengatakan bahwa aku cinta dia.’ Itulah doaku untukku, untukmu dan untuk kita berdua.”

“Kalaulah dia memang jodohku nanti, semoga dadanya dilapangkan untuk menerima ‘penyampaian cintaku ini.’ Biarlah rasa itu bersemanyam sebagai ‘penyemangat’ bukan sebaliknya. Biarlah penyampaian cinta ini sebagai langkah pertama dari tangga komitmen yang kami bangun. Jadikan diriku sebagai diriku. Jadikan dirinya sebagai dirinya.”

itu doaku, dan itu harapanku untuk hari ini.

Aku bukan hanya berdoa, tapi juga memantaskan diri. Bagiku terlalu bodoh jika seorang hamba banyak berdoa tapi ia tak pernah berkaca diri.

Ketika aku ingin dipertemukan dengan orang baik, maka jadilah baik pula. Ketika aku ingin dipertemukan dengan orang jujur, maka jadilah jujur. Itulah nilai memantaskan diri untuk menemukan ‘janji’ yang telah Allah tetapkan.

Seketika Allah memperlihatkan, mendekatkan dan mengharmoniskan aku dan kamu, seketika itu juga aku berusaha menjadi lebih baik dan baik lagi. Aku berupaya mengkoreksi diri tentang apa saja yang kulakukan. Sekiranya itu buruk, maka Insya Allah aku tinggalkan, dan sekiranya itu baik, Insya Allah aku jalankan.

Bukan cuma itu, selain memantaskan diri aku juga berusaha menemukan, mengamati, menjaga dan membangun. Dengan usaha-usaha yang menurutku baik dan bermoral, alhamdulillah atas izin-Nya semua berjalan dengan lancar. Bukan semakin hari kamu dijauhkan oleh-Nya, justru semakin diharmoniskan.

Dan hari ini tibalah saatnya dimana rasa harus dicurahkan, kata harus disampaikan dan cinta harus disemayamkan. Aku juga tak tau kenapa harus hari ini, yang pasti aku merasa hari ini terasa begitu tenang, indah dan menyejukkan, sehingga tak ada yang salah jika semua itu disampaikan.

Apakah ini momentumnya? Cinta hadir tidak menunggu momentum atau peristiwa tertentu. Cinta tidak diciptakan oleh peristiwa, tapi justru cintalah yang menciptakan peristiwa-peristiwa itu. Cinta tidak hadir karena sebab waktu, tempat, momentum atau peristiwa, tapi justru cintalah yang menciptakan itu semua. Ini prinsip!

Perlu aku sampaikan pula, cinta bukan seperti jual beli yang serat akan transaksi. Cinta bukan soal menjual dan membeli, menerima atau menolak, tapi cinta adalah soal komitmen dan perjuangan.

Lantas bagaimana aku mencintai?

Inilah yang membedakan aku dengan yang lain. Mengenal diriku bukan hanya mengenal siapa namaku, dari mana asalku dan apa pekerjaanku, tapi mengenal diriku sejatinya mengenal pemikiranku juga. Maka kenalilah aku dan bagaimana aku mencintai.

Bagiku cinta lebih dekat dengan memberi ketimbang meminta. Cinta lebih dekat dengan menjaga ketimbang mejerumuskan, dan cinta lebih dekat dengan membangun ketimbang merobohkan.

Tatkala aku mencintai, maka sudah menjadi kewajibanku untuk memberi, menjaga dan membangun. Pun dengan kamu, disaat kamu mencintai, sudah menjadi keharusan untuk lebih banyak memberi, menjaga dan membangun.

Lebih banyak memberi bukan berarti memanjakan. Karena logika cinta ‘sama-sama mencintai’ bukan cinta sebelah pihak, maka keduanya akan saling memberi yang terbaik.

Memberi itu juga bukan soal materi. Memberi juga bisa dari sisi emosional, dukungan bahkan intelektual dan ini lebih berharga dari sekedar materi belaka.

Disaat kamu sedang sedih dan terpuruk, sudah menjadi kewajiban bagiku untuk memberi semangat, motivasi dan turut membantu menyelesaikan masalahnya. Inilah esensi memberi, yakni meringankan beban sesama manusia. Dan bukankah ini ajaran Nabi?

Pun sama halnya dengan menjaga. Menjaga bukan melulu bicara kuaatau lemah, tapi menjaga bicara soal sifat esensial yang lebih luas, yakni positif dan negatif.

Ketika aku terlihat ke arah negatif, sudah keharusan bagimu untuk mengingatkan. Jika aku terlihat ceroboh dalam menjalankan sesuatu, maka sudah sepatutnya kamu menegur agar diriku terjaga dari kegagalan.

Bukankah seorang muslim itu seperti saudara yang satu sama lain saling menjaga dan menguatkan? Ini adalah ajaran Islam dan inlah esensi kemanusiaan, yakni saling memberi rasa aman, bukan saling mengancam.

Membangun pun sama. Membangun juga bukan soal mampu atau tidak mampu, tapi membangun adalah soal kolaborasi. Keduanya sama-sama menyadari untuk berdiri bersama, berjalan bersama dan maju bersama untuk sukses sama-sama.

Keduanya saling bahu-membahu dalam meraih cita-cita. Inilah membangun dalam jalinan cinta. Ia sifatnya konstruktif, bukan malah dekonstruktif. Jika ada cinta namun ujung-ujungnya menjerumuskan, ketahuilah, itu bukan cinta.

Hai kau yang disana, inilah segelumit dari rasa cinta dan bagaimana aku mencintai. Cintaku tak butuh kata ‘diterima’, karena cinta bukan soal diterima atau ditolak. Tapi rasa cintaku butuh komitmen untuk saling memberi, menjaga dan membangun bersama.

Satu lagi, cintaku juga bukan soal ‘jalinan kekanak-kanakkan’ atau yang biasa disebut ‘pacaran’. Cinta bukan soal itu, dan sejatinya pacaran bukan cinta itu sendiri. Pacaran hanyalah istilah biasa untuk menerjemahkan suatu ikatan saja, selebihnya tidak ada.

Apakah setiap yang mencintai harus pacaran? jawabku, TIDAK! Sekali lagi, pacaran bukan cinta, dan cinta bukan pacaran itu sendiri.

Kalaulah aku boleh jujur, aku lebih memilih menjadikan orang yang aku cintai sebagai partner. Dengan partner aku dan kamu bisa saling bahu membahu, membangun bersama dan meraih kesuksesan bersama.

Orientasinya pun beda. Jalinan cinta kasih tak melulu bermuara pada rasa saling memiliki atau justru nafsu yang diumbar-umbar, tapi jalinan cinta kasih juga mampu dimuarakan ke ranah yang lebih positif, seperti belajar bersama, membangun hobi, karir, atau bisnis bersama.

Dengan mengucap Bismillah, di hari Valentine ini aku mau menyampaikan secercah perasaanku, aku mencintaimu.

Semoga hari Valentine ini seindah perasaanku padamu. Selamat hari Valentine….

 

Surat Cinta di Hari Valentine
Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top