Saya dan Fase Blogger yang Harus Dijalani
Opini

Saya dan Fase Blogger yang Harus Dijalani

Bagi saya pribadi, fase-fase ini sudah menjadi ketentuan tak tertulis. Ia perlu dilewati satu persatu hingga akhirnya kita berada di puncak. Rasa-rasanya sangat mustahil jika seorang blogger ingin menghasilkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah jika tak melewati fase-fase yang ada.

http://ributrukun.com

Mas Halfi – Kali ini saya ingin cerita tentang perjalanan atau metamorfosis saya di dunia blogger. Saya kenal dunia blog sejak duduk dibangku SMA. Kebiasaan menulis di majalah dinding membuat saya ingin berekspansi di dunia online. Dari sinilah saya mengenal ‘apa itu blog.’

Kesan pertama mengenal blog cukup membuat saya makin semangat menulis. Karya tulis yang biasanya hanya dibaca 100 sampai 200 orang saja, kini daya jangkaunya bisa sampai ribuan, bahkan puluhan ribu. Alih-alih dibaca ribuan orang, tulisan saya bisa mejeng di internet saja hati sudah sueneng banget.

Di fase awal, semangat saya untuk menulis kian bertambah. Jika biasanya hanya menulis satu sampai dua artikel perminggu, kini bisa lima sampai enam artikel perminggu. Semua itu berangkat dari hobi menulis.

Pada fase ini orientasi utama saya bukan uang, apalagi popularitas. Saya semangat ngeblog hanya untuk mengasah hobi menulis dan menulis. Sebelum terjun ke dunia blogger, saya sudah punya mimpi untuk menulis buku, karenanya tak perlu heran jika saat ‘nyemplung’ ke dunia blog produktivitas saya kian bertambah.

Artikel yang saya tulis tak jauh beda dengan kolom-kolom yang ada di mading pesantren. Ada cerita pendek, hikmah, puisi, anegdot, sampai opini pribadi. Semua kegiatan ini hanyalah semacam hijrah dari mading ke blogging.

Usai lulus SMA, saya melanjutkan hobi ini ke jenjang selanjutnya, yakni penguasaan teknik. Jika sebelumnya saya tak pernah mempedulikan tampilan blog dan hanya berorientasi pada konten, kini saya mulai memperhatikan tampilan blog. Apakah tampilannya sudah menawan atau belum.

Step by step saya mulai belajar tentang template blog, struktur blog, cara menulis artikel di blog, sampai cara optimasi blog. Fase ini cukup menguras waktu lama. Terbukti, untuk belajar dari step bawah sampai step menengah atas, saya membutuhkan waktu kurang lebih 4 tahun lamanya.

Meski cukup panjang, namun hasil yang saya dapatkan cukup memuaskan. Waktu yang saya dedikasikan untuk belajar teknik blogging tak sia-sia. Yang dulunya hanya bisa nulis, nulis dan nulis, kini saya sudah bisa menulis konten sesuai alur optimasi, desain web, optimasi web sampai membuat perencanaan web dari nol sampai menghasilkan uang.

Dari sini saya menyadari ada fase-fase yang harus dilalui setiap blogger. Fase pertama tentang semangat menulis, dan fase kedua tentang penguasaan teknis. Dengan pola fase demikian, saya pribadi tidak mudah kehilangan semangat menulis artikel dan menuangkan ide gagasan baru di kemudian hari.

Nah, namun dari sini muncullah masalah baru. Pola fase yang seharusnya berangkat dari semangat menulis, seringkali berbalik arah pada kebanyakan blogger. Blogger pemula hari ini mayoritas tidak berangkat dari semangat menulis, melainkan mencari pendapatan sampingan.

Akhirnya, kegiatan tulis menulis yang seharusnya menjadi titik tumpu blogger, kini hal harus dikesampingkan dengan hal-hal teknis. Alhasil, mereka yang seperti ini kebanyakan menguasai teknik tapi tak produktif.

Menurut hemat saya pribadi, penguasaan teknik bukanlah fase awal atau fase akhir pada blogger. Penguasaan teknik hanyalah fase kedua bagi blogger. Usai ia produktif dan konsisten dalam menulis konten, maka dibutuhkanlah penguasaan teknik untuk menunjang konten yang ia buat.

Jika kedua fase itu sudah lulus, barulah naik ke fase selanjutnya, yakni menghasilkan uang dari blog. Saya kira ini pula yang dijalani para blogger senior seperti Sugeng.id, PanduanIM, Blogodolar atau Juragan Cipir, mereka semua pasti berangkat dari hobi menulis yang kemudian berlanjut ke penguasaan teknis, barulah jika keduanya sudah mampu digenggang, mereka baru berpikir bagaimana menyusun strategi menghasilkan uang dari blog.

Jika saya harus membuat perumpamaan, tentara yang sudah terjun ke meda perang dan bergerilya melawan musuh haruslah menguasai teknik peperangan terlebih dulu. Bagaimana mengenal jenis senjata, cara menggunakan senjata, cara menguasai medan perang, sampai penyusunan strategi pemenangan perang. Jika semua itu sudah terlewati dengan baik, barulah ia lolos dan dibolehkan terjun ke medan pertempuran.

Disinilah yang saya sebut sebagai masalah. Mayoritas blogger, apalagi blogger yang nyepam di grup facebook, terjun ke dunia blogger tidak berangkat dari semangat menulis, tapi loncat ke fase lanjutan, yakni menghasilkan uang dari blog. Mereka lalai dengan step yang seharusnya ia lewati. Alhasil, apa yang diharapkannya pun ‘zonk’, kalau toh dapat, hasilnya pasti tak maksimal.

Bagi saya pribadi, fase-fase ini sudah menjadi ketentuan tak tertulis. Ia perlu dilewati satu persatu hingga akhirnya kita mencapai puncak. Rasa-rasanya sangat mustahil jika seorang blogger ingin menghasilkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah jika tak melewati fase-fase yang ada.

Kalau saya pribadi memiliki jenjang/fase yang perlu saya lewati.

  • Pertama, fase menulis.
  • Kedua, fase penguasaan teknik.
  • Ketiga, fase penguasaan bisnis
  • Keempat, fase popularitas
  • Kelima, fase jaringan
  • Keenam, fase strategis/konsep
  • Ketujuh, fase politis

Itulah tujuh fase yang perlu dilewati oleh blogger. Fase pertama dan kedua sudah saya jelaskan diatas. Singkatnya, di fase awal kita perlu menumbuhkan semangat dan hobi menulis terlebih dulu. Menulis apapun yang kita suka, yang penting menulis secara konsisten. Fase kedua, kita perlu menguasai teknik blogger. Tidak harus 100%, cukup 40 sampai 60% saja, itu sudah mampu mengantarkan kita ke fase selanjutnya. Yang pasti, dasar-dasar blogger kita harus tahu.

Fase ketiga ialah penguasaan bisnis. Fase inilah yang kerap kali menjadi loncatan blogger pemula. Sekali terjun ke dunia blog, ia langsung loncat ke fase ini dan melalaikan fase-fase sebelumnya.

Di fase ini kita dituntut untuk mendalami ‘peluang-peluang’ yang bisa diciptakan oleh blog. Baik itu peluang bawaan, seperti Google Adsense, atau peluang bisnis yang lain.

Peluang bisnis yang lain diantaranya;

  • Jasa pembuatan website
  • Jasa tulis artikel
  • Ghost writer
  • Jasa desain logo/grafis
  • Jual belie book
  • Afiliasi
  • Jual beli produk
  • Jasa review, dan masih buanyak lagi.

Dari sini mungkin saya tak perlu menjelaskan panjang lebar, sebab sudah terlalu banyak blogger yang mengulas tema ‘cara mendapatkan uang dari blog.’ Tapi meski demikian, saya bisa menjamin apa yang mereka tulis tidak semuanya mereka kuasai.

Nah, disinilah yang perlu kita jawab. Ketika kita sudah tahu peluang-peluang tersebut, maka lakukanlah dan berusahalah. Jangan menjadi blogger yang tahu hanya sekedar tahu, tapi jadilah blogger yang tahu dan mencoba. Soal gagal atau tak maksimal, itu sudah biasa dan risiko dari setiap fase.

Yang menjadi pembeda antara blogger yang sukses meraup penghasilan dengan blogger yang berkantong kering ialah berusaha atau diam. Blogger yang sukses selalu berusaha disetiap celah yang ia ketahui. Tiap kali gagal, ia bangkit. Gagal lagi, bangkit lagi, sampai benar-benar berhasil.

Beda halnya dengan blogger yang bertampang kere, ia pandai bercuap-cuap soal strategi, peluang ini dan itu, tapi secara usaha ia nol besar.

Karenanya, di fase ketiga kita dituntut untuk praktik dari apa yang kita pelajari. Mengamalkan teknis yang telah kita kuasai. Jika dari fase ini kita tak mau berusaha dan cenderung melakukan pembiaran, ya rasa-rasanya sangat mustahil dapat uang dari blog.

Kecuali jika tujuan ngeblog bukan untuk cari uang, melainkan hanya sekedar hobi saja, maka sah-sah saja. Tapi jika tujuan pertama dan utama untuk mendapatkan penghasilan, lalu malas-malasan untuk praktik, ya tenggelamkan saja!

Lantas, apa bagaimana dengan fase blogger selanjutnya? Tunggu di artikel Part II

Saya dan Fase Blogger yang Harus Dijalani
Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top