Harus Memilih antara Fsilsafat dan Blogger
Cerita

Memilih Antara Filsafat dan Blogger

Sumber: http://lazuardi.id

Beberapa waktu lalu saya sempat gelisah tentang bidang yang harus saya dalami. Di satu sisi saya mendalami filsafat di Paramadina, disisi lain saya juga cinta dengan dunia teknologi, khususnya website.

Keduanya memiliki ruang khusus dalam diri saya, baik waktu, kesempatan, upaya dan pendalaman. Rasa cinta yang saya miliki bukan hanya sebatas klaim, tapi penuh dengan aktualisasi yang berkelanjutan.

Filsafat. Saya pribadi mengambil jurusan filsafat karena suka dengan corak khasnya. Rasional, kritis, logis, sistematis menjadikan saya cukup lahap membaca buku-buku pemikiran sejak duduk dibangku pesantren.

Karenanya Paramadina menjadi pilihan utama saya sebagai kendaraan mengobati rasa ‘kepo’ akan dunia dan perjalanan filsafat.

Meski demikian, sejujurnya saya tak memberikan harapan lebih pada filsafat untuk menuntun saya ke dunia kerja. Sejauh ini saya berpersepsi filsafat bukan senjata ampuh untuk mengumpulkan koin-koin rupiah di Jakarta, tapi hanya sebatas penuntun cara berpikir dalam menghadapi dunia kerja.

Itulah mengapa saya tak merasa puas dengan dunia pemikiran saja, butuh dunia lain yang mampu melengkapi ruang-ruang kering filsafat, yakni teknik.

Berangkat dari sini saya mulai berkaca diri tentang ruang mana yang harus saya selami secara mendalam dan berkelanjutan. Hanya bermodal sebungkus rokok dan segangkir kopi Gayo akhirnya saya memantabkan diri untuk menekuni dunia blogger.

Saya memilih ‘blogger’ bukan karena melihat trend yang kian lama kian kesana, tapi ada satu kebiasaan saya yang sudah melekat pada sifat dasar blogger itu sendiri, yakni menulis.

Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah, perselingkuhan saya dengan blogger berhasil membuahkan hasil. Buktinya dari semenjak jari jemari ini riuh dengan blog, desain web, seo, adsense, dll, saya bisa hidup di Jakarta sampai hari ini tanpa harus merasa ‘kekurusan’.

Ini yang menjadi cikal bakal mengapa dunia blogger merebut sedikit ruang yang sebelumnya saya dedikasikan untuk filsafat. Meski konsekwensi logisnya cukup berat, tapi saya sudah menyadarinya sejak awal. Ketika blogger harus saya dalami, maka fokus saya harus terbelah, rasa cinta saya harus mendua, dan ‘perselingkuhan’ pun harus terjadi.

Kalaulah ‘uang’ dijadikan tolak ukur sebagai keberhasilan ‘senggama’ antara saya dengan filsafat, maka sampai hari ini Allah belum menunjukkan tanda-tanda adanya ‘kehamilan’.

Berbalik arah dengan dunia blogger, sudah cukup banyak ‘janin-janin’ yang terlahir dari hasil ‘perselingkuhan’ saya dengan blogger. Bahkan saya juga melahirkan janin luar biasa yang kini sudah tumbuh besar dan berprestasi, namanya adalah Blogger Jakarta.

Mungkin, sekali lagi mungkin, apakah semua perjalanan ini adalah tanda, simbol atau memang fakta yang tak perlu ditafsiri lagi. Alias, saya sesungguhnya bukan manusia yang semestinya jatuh pada ‘dunianya Sophie’, melainkan manusia yang baru menemukan dunia yang semestinya.

Pada titik ini saya tak mau memaksakan ego. Melepaskan ‘mother of science’ yang telah merubah cara pandang saya menjadi semakin luas, bijaksana dan lebih hati-hati, dan memilih ‘hobi’ yang sudah jelas telah banyak melahirkan ‘karya’.

Gelisah itu pasti. Harus memilih antara dua pilihan yang semuanya berat, dan beratnya melebihi berat badan saya sendiri. Mungkin kalau sekarang ada Dilan, pasti saya sudah tidur lelap dan biarlah dia merasuk pada dunia ide yang dibawa oleh Plato.

Mas, belajar filsafat sambil mendalami blogger kan bisa?

Kalau kita berasumsi dengan kata ‘bisa’, maka Firaun pun juga bisa masuk Firdaus, asal Tuhan-Nya mengizinkan. Ini bukan soal bisa atau tidak, tapi ini soal waktu dan perjalanan zaman.

Kalau saya tidak lebih cepat dengan kecepatan zaman itu sendiri, maka sampai kapanpun saya akan dibelakang dan terbelakang.

Bagi saya, seorang pemenang harus lebih cepat cara berpikir dan gerak lajunya katimbang lawan yang dihadapinya.

Kalaulah zaman saya andaikan sebagai lawan main catur, maka saya harus berpikir dua sampai lima langkah lebih depan dari satu gerakannya. Sekali lagi itu pinsip.

Hari ini ‘perselingkuhan’ saya dengan blogger telah mengantarkan ke dimensi yang sebelumnya tak pernah terimpikan, yakni politik.

Panggung pilkada serentak 2018 memaksa saya untuk terjun langsung dengan bekal ‘pengalaman dan wawasan’ seadanya tentang dunia blogger. Maka mau tidak mau, dedikasi waktu, kesempatan dan rasa cinta akan filsafat, harus lebih banyak ‘terdiskon’.

Ini luar biasa. Ini mengagumkan, dan ini adalah kesempatan. Disini saya belajar secara langsung apa yang tak pernah saya dapatkan dibangku Filsafat. Jika dikelas saya belajar bagaimana menganalisa pemikiran, maka disini saya belajar sekaligus dihadapkan dengan pemikiran-pemikiran itu.

Lagi-lagi, keterlemparan saya disini bukan karena ‘filsafatnya’, tapi karena ‘bloggernya’.

Demi mengentaskan diri dari ‘masa kegelapan’ ke masa ‘pencerahan’ saya harus memposisikan kedua jalan ini layaknya pasangan hidup. Ia harus diistimewakan, diberikan perhatian khusus, dirawat, dijaga dan tak lupa, juga harus dipoles agar terlihat aduhai.

Bukan cuma dijaga, dipoles atau diberi perhatian khusus saja, tapi ia juga harus dipilih dan dijaga kesetiaannya. So, ending-nya saya harus memilh antara ‘dia’ dan ‘dia’.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang dan tak lupa memanjatkan doa usai shalat Istikharah, pada akhirnya sy harus memilih,,,,,,,

 

Bersambung

Memilih Antara Filsafat dan Blogger
Berkomentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler

To Top